Apakah seorang wanita wajib melayani suaminya?

Apakah seorang wanita wajib melayani suaminya?

Dijawab oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al-Wushabi Hafizhahullah

Jawabannya: Yang tampak adalah wajib, dengan dalil keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla

( وتعاونوا على البر والتقوى ولاتعاونوا على الأثم والعدوان )

“Dan Hendaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Dan jangan  tolong menolong dalam hal dosa dan permusuhan”

maka wajib bagi isteri untuk melayani suami sesuai kemampuannya,

(لايكلف الله نفسا إلا وسعها )

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya”

demikian pula firman-Nya:

(إن الله يأمر بالعدل والإحسان )

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan (berbuat) baik.”

Maka si suami bekerja, kelelahan diluar rumah mencari kebutuhan hidup. Lalu apa pekerjaannya (si isteri)? Pekerjaannya ada didalam rumah, memasak, menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian, dan mendidik anak-anak. Apabila ia (suami) membanting tulang diluar rumah mencari sesuap nasi. Setelah dekat waktu zhuhur (yakni setelah selesai bekerja lalu pulang, pent) dan sesampainya di rumah ia harus memasak, karena beranggapan bahwa isteri tidak wajib melayani suami sementara wajib bagi suami melayani isteri, maka ia (suami) merangkap sebagai laki-laki dan perempuan, dia memasak, menyapu, mencuci piring, sedangkan si isteri hanya menunggu diatas ranjang “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil” “Dan Hendaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.” Perintah ini berlaku untuk semua kalangan. Perintah ini juga mencakup kedua pasangan (suami isteri). Namun, perhatikan, jangan sampai si suami mengeluarkan isterinya dari rumah dengan alasan keadilan dan ta’waun dan membebankan kepadanya pekerjaan diluar rumah seperti laki-laki, menyibukannya di toko atau di kantin, bukan (ini maksudnya).

(Allah berfirman): “Dan tinggal-lah kalian di rumah-rumah kalian.” Maka si isteri tetap tinggal dirumahnya. Adapun pekerjaan yang harus (dilakukannya) adalah pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuannya. Apabila pekerjaannya banyak maka bisa minta bantuan suaminya, namun jika pekerjaannya hanya sedikit dalam batas kemampuannya maka itulah kewajibannya. Jangan kamu merasa lemah. Berlindunglah kepada Allah dari sifat lemah dan malas.

Dinukil dari kaset: Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Abu Rawahah

Sumber: http://olamayemen.com/show_fatawa349.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: