Sunnah Sunnah Fithrah (Khitan), Bag: 2

khitan

  • Waktu Khitan

Para ulama menyebutkan bahwa berkhitan memiliki dua waktu:

  1. Waktu wajib (yaitu waktu yang ketika itu diwajibkan bagi seorang untuk berkhitan, jika ia tidak berkhitan diwaktu itu maka ia berdosa, pent)
  2. waktu mustahab (yaitu waktu yang ketika itu disukai bagi seseorang untuk berkhitan, tetapi jika di waktu itu ia tidak berkhitan maka tidak berdosa, pent)

Waktu mustahab: para ulama menjelaskan bahwa waktunya dimulai dari sejak lahir sampai sebelum usia baligh[1]. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari, bahwa seorang shahabat bernama Marwan bin ‘Abbas berkata,

وكانوا لا يختتنون للرجل حتى يدرك

“Mereka (para shahabat) tidak pernah mengkhitan seseorang sampai usia baligh.”

Ini adalah perbuatan para salaf.

Untuk waktu mustahab ini, terjadi silang pendapat diantara para ulama didalam menentukan waktu mustahab. Kapan waktunya?

  • Sebagian mereka berpendapat ketika bayi berumur tujuh hari. Mereka berdalil dengan beberapa hadits dan atsar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas dengan jalan yang marfu’ (sampai ke Rasul) dan mauquf (sampai ke shahabat),

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم استحب الختان في اليوم السابع

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyukai khitan di hari yang ketujuh.”

Bagi ulama yang menganggap hadits ini hasan, maka inilah yang dia amalkan.

Asy-Syaikh Al-Albany mempunyai pembahasan (ilmiyyah) tentang masalah ini dalam kitabnya Tamamul Minnah.

Ulama yang melemahkan hadits ini menganggap bahwa waktunya umum, boleh bagimu untuk berkhitan kapan saja, yang penting sebelum mencapai usia baligh. Inilah pendapat kebanyakan ulama.

Maka semakin cepat seseorang berkhitan maka itulah yang afdhol baginya. Karena, kulit dzakar dengan bertambahnya umur akan bertambah keras, dan akan lebih menutupi kepala dzakar, sehingga dapat menahan sisa air kencing yang dengan itu dapat menyebabkan efek negatif.

Waktu wajib: ketika usia bulugh.

Bersambung insya Allah….

Untuk bagian pertama bisa dibaca disini: Sunnah Sunnah Fithrah (Khitan), Bag: 2


[1] Tanda-tanda baligh ada dua, tanda asli dan tanda cabang. Tanda asli bagi pria ada 3: ihtilam (mimpi basah), tumbuhnya bulu kemaluan, dan memasuki usia 15 tahun. Untuk wanita ditambah satu tanda, yaitu haidh. (Ahkam Shiyah, Syaikh Abu Hasyim Asy-Syihri Al-Yamani)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: